Bappeda Luwu Gagas Kajian Terpadu Penanganan dan Pengendalian Banjir

Jembatan Sungai Keppe, Larompong, trans Sulawesi setiap banjir dipenuhi sampah dari ranting dan batang pohon lantaran memakai tiang pancang. -foto: dok.SR-

LUWU, Saorakyat.com–Badan Perencanaan dan Pembagunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda dan Litbang) Kabupaten Luwu, menggagas kajian terpadu penanganan dan pengendalian banjir di Luwu.

Untuk memantapkan program ini, Bappeda dan Litbang Luwu menggandeng Center of Technology (PUSLATEK/CoT) Universitas Hasanuddin Makassar.

Dalam ekspose via teleconfrence dilaksanakan di ruang pertemuan Bappeda dan Litbang Kabupaten Luwu, Selasa (21/4/20)

Bappeda Luwu, menghadirkan pembicara Dr Eng Ir Farouk Maricar, MT, PU, SDA sebagai Ahli Teknis Sumberdaya Air. Ada pula Ir Riwal Karamma, MT sebagai Ahli Teknik Sungai/Model Hidrolika, Ir Bachrianto Bachtiar, SPi, MSi sebagai Ahli Lingkungan Hidup dan Ir Naufal SHut, IPM sebagai Ahli DAS dan Remote Sensing.

Baca Juga:

Kepala Bappeda dan Litbang Luwu, Drs Muh Rudi MSi mengatakan, tujuan dari ekspose ini untuk merancang “Road Map” Kabupaten Luwu Bebas Banjir Tahun 2024.

“Kita berharap dari lahirnya dokumen yang menjelaskan rencana aksi penanganan dan pengendalian banjir secara spesifik ini, dapat menjadi peta jalan Kabupaten Luwu untuk menyelesaikan masalah banjir yang tiap tahun terjadi,” kata Muh Rudi.

Sementara itu, Farouk Maricar dalam penjelasannya, pengendalian banjir ditargetkan memilikiperencanaan yang multilayer pada setiap level perencanaan. Baik itu dengan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

Sehingga kata dia, hal ini bukan saja menjadi cara menyelesaikan dampak banjir saat ini, tetapi juga terhadap potensi banjir yang kemudian akan terjadi ke depan. Khususnya pengurangan resiko dampak perubahan iklim secara berkelanjutan.

Menurutnya, ruang lingkup kajian ini adalah mengukur dan menganalisis tingkat kerawanan banjir di wilayah Kabupaten Luwu dan melakukan eskalasi dampak banjir di masa ini dan masa depan.

Ekspose ini turut dihadiri, Anggota DPRD Luwu, Summang, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Andi Pangerang, Kepala BPBD,.Rahman Mandaria

Dalam acara ini dihadirkan kecamatan dampak banjir di antaranya, Kecamatan Suli, Suli Barat, Larompong, Larompong Selatan, Bajo, Bajo Barat, Bastem, Bastura, Latimojong dan Kecamatan Lamasi.

Untuk diketahui, khusus wilayah Kecamatan Suli dan Larompong, banjir terjadi, salah satu penyebabnya perambahan hutan di hulu, wilayah Suli Barat, di Kaladi Darussalam dan Desa Poringan. Kawasan ini berbatasan pegunungan Kecamatan Larompong, Desa Bukit Sutera.

Bukan rahasia lagi, perambahan kawasan hutan lindung itu, bukan oleh masyarakat kecil, tapi disinyalir oknum bermodal dan pejabat.

Sehingga, berbicara masalah banjir tidak cukup secara teoritis dan eskpose di layar proyektor, tanpa upaya menghentikan akar masalahnya. (jp/as)

Next Post

Pasien Sembuh Bertambah Menjadi 842, Kasus Positif Covid-19 Meluas ke 257 Kabupaten

Sel Apr 21 , 2020
Jembatan Sungai Keppe, Larompong, trans Sulawesi setiap banjir dipenuhi sampah dari ranting dan batang pohon lantaran memakai tiang pancang. -foto: dok.SR- LUWU, Saorakyat.com–Badan Perencanaan dan Pembagunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda dan Litbang) Kabupaten Luwu, menggagas kajian terpadu penanganan dan pengendalian banjir di Luwu. Untuk memantapkan program ini, Bappeda dan […]