BBM Premium Bakal Dihapus, Pertamina Beberkan Dampak Lingkungannya

Petugas SPBU sedang melayani pembeli bahan bakar untuk kendaraan roda empat. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Saorakyat.comPemerintah meminta Pertamina mengurangi jumlah produk BBM yang dikeluarkan perusahaan. Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI pada Kamis (25/6/20) mengakui adanya rencana menghapus BBM jenis Premium.

Manager Customer dan Technical Service Pertamina, Remigius Choerniadi Tomi, membeberkan, BBM jenis Premium kurang ramah lingkungan.

“Premium secara ilmiah jika kita gunakan terus menerus akan lebih banyak menghasilkan kerugian, dasar ilmiahnya adalah pertama Premium hanya bisa digunakan untuk mesin bensin dengan compression ratio yang rendah,” kata Choerniadi saat diskusi secara virtual, Sabtu (27/6/20) melansir kumparan.com

Baca Juga : Banjir di Luwu, Pemerintah Perlu Serius Atasi Kapitalisasi Kawasan Hutan

Choerniadi mengatakan, untuk menghasilkan tenaga mesin mobil yang tinggi, bahan bakar harus ekonomis sehingga berdampak pada emisi yang semakin rendah. Untuk itu, ia merasa Premium sudah tidak tepat lagi digunakan karena pada umumnya pabrikan mobil sudah menggunakan compression ratio yang tinggi.

“Lalu bagaimana jika Premium dipaksakan digunakan untuk mesin mobil modern yang mempunyai compression ratio yang tinggi? Maka gejala yang kita rasakan adalah detonasi. Detonasi adalah dua tumbukan di dalam ruang bakar sehingga menyebabkan penurunan power pada mesin mobil,” ujar Choerniadi.

“Akibatnya yang lain adalah emisinya semakin tinggi polusinya, dalam jangka panjang sistem mobil akan mengalami kerusakan dan yang jelas penumpang merasa tidak nyaman,” tambahnya.

Selain itu, Premium yang memiliki research octane number (RON) 88 hanya cocok untuk compression ratio 7,5. Menurut Choerniadi mobil dengan compression ratio lebih tinggi seperti 8 sampai 11 itu sudah harus menggunakan bensin RON 92 sampai 96.SP SPBU, Pertamina.

Baca Juga: Krisis Ekonomi, IMF Ingatkan Utang Pemerintah akan Terus Meningkat

Choerniadi menjelaskan, mobil-mobil terbaru saat ini sudah mampu memenuhi standar emisi gas buang euro 4 sampai euro 6. Hal itu, kata Choerniadi, paling banyak diadopsi di seluruh dunia untuk mengelola emisi gas buang.

“Euro 1 adalah yang paling polutif, makin besar euronya maka emisi gas buangnya semakin bersahabat dengan lingkungan, karbon yang diemisikan makin rendah. Celakanya Premium ini hanya cocok digunakan untuk mesin bensin dengan teknologi mesin bensin euro 1,” ungkap Choerniadi.

Choerniadi menggambarkan besarnya polusi udara yang diemisikan jika beralih dari mesin bensin standar euro 1 ke euro 2 maka akan menurunkan emisi mencapai 83 persen. Apabila dari BBM euro 1 ke euro 3 gas buangnya bisa turun mencapai 87,5 persen.

“Yang terakhir jika mesin bensin kita saat ini sudah euro 4 maka emisi gas buang mobil kita itu jika dibanding euro 1 maka penurunannya capai 93,5 persen. Dunia berharap, dunia bermimpi nanti penurunan emisinya mencapai 100 persen. Nah itu bisa dicapai dengan electrical vehicle,” tutur Choerniadi.(as/*)

Next Post

Covid-19, Indonesian Institute Usul Tunda Pilkada 2020 atau Voting Daring

Sab Jun 27 , 2020
Petugas SPBU sedang melayani pembeli bahan bakar untuk kendaraan roda empat. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan Saorakyat.com—Pemerintah meminta Pertamina mengurangi jumlah produk BBM yang dikeluarkan perusahaan. Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI pada Kamis (25/6/20) mengakui adanya rencana menghapus BBM jenis Premium. Manager Customer dan Technical […]