Diskes Luwu Kunjungi Anak Kakak Beradik Mengidap Kebutuhan Khusus

2

Luwu, Saorakyat.com– Sejak tahun 2015, dua anak bersaudara kandung mengidap penyakit berkebutuhan khusus di Lingkungan Banawa, Kelurahan Suli, Kecamatan Suli, Luwu.

Si kakak bernama Helsa, usia 10 tahun, menderita kelainan saraf di otak. Sedangkan adiknya bernama Gufran usia 5 tahun, mengalami kelainan jantung bawaan.

Haeruddin, orang tua dua anak penderita kelainan khusus ini, sudah pasrah dengan segala ikhtiarnya. Pasalnya, sejak kedua anaknya itu menderita penyakit, sudah dirawat dokter special setempat hingga dirujuk ke RS special anak di Makassar.

Baca Juga: IDI: Dokter Gelisah Pemerintah Tak Transparan soal Data Corona

Perjalanan medis anak dari Khaeruddin dan Rahmawati itu tak membuahkan hasil. Hingga mereka memutuskan mengeluarkan anaknya dari RS dan balik di kediamannya.

Kini, Dinas Kesehatan (Diskes) Luwu prihatin atas nasib kedua anak itu. Minggu (22/3/20) kemarin, Sekretaris Diskes Luwu, dr. Rosnawary, M.Rr.Adm, Kes bersama staffnya memantau langsung kondisi dua anak itu di kediamannya.

“Kunjungan kami, untuk memantau langsung kondisi kedua anak ini. Sekaligus
meminta kesediaan orang tuanya mengizinkan pemeriksaan dan perawatan intensif di RSUD Batara Guru Belopa,” ujar dr. Rosnawary.

Baca Juga: ODP dan PDP Bertambah, Warga dari Daerah Infeksi Corona Dipantau

Menurut dr. Rosnawary, kondisi penyakit kedua anak ini harus ditangani secara khusus oleh dokter ahli. Sebab tergolong penyakit yang kronis. Namun karena pihak orangtua enggan membawa anaknya dirawat ke fasilitas kesehatan lanjut.

“Jadi sejak tahun 2015 hingga kini, pihak Puskesmas Suli terus melakukan penanganan terpantau kondisi kedua anak ini. Bahkan, pernah dari Puskesmas dengan inisiatifnya sudah membawa untuk diperiksa ke dokter spesialis anak di Belopa,” kata dr. Rosnawary.

Karena kondisi penyakit si anak itu kronis, lajut dia, maka oleh dokter ahli anak di Belopa menyarankan untuk memberikan rujukan ke RS di Makassar. Tetapi kedua orangtuanya menolak dengan pertimbangan tertentu,” jelas nya.

Baca Juga: Tingkat Kematian Corona di Indonesia Capai 9.3%

Hj Munawarah, pihak Puskesmas Suli menambahkan, pihaknya tak pernah berhenti memantau kondisi kedua anak tersebut. Termasuk rutin memberikan asupan gizi berupa biskuit dan susu di setiap bulannya.

Penyakit yang diderita kedua anak ini menurut dia, bukan penyakit biasa. Sedang ketersediaan tenaga dan fasilitas yang sangat terbatas. Maka tentunya, layanan penanganan medis yang diberikan belum sesuai dari yang seharusnya.

Haeruddin, orang tua si Helsa dan Gufran membenarkan, Gufran sudah diperiksa oleh dokter spesialis anak. Hasilnya dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan dan perawatan intensif yang representatif di RS Makassar.

“Si Helsa, sudah pernah dirawat di salah satu RS Makassar. Tapi pertimbangan lain, jadi saya bawa kembali ke kampung,” sebut Khaeruddin yang kehariannya sebagai Kepala Lingkungan Banawa.

Baca Juga: Mengenali Secara Medis Covid-19

Kemudian dari pihak Puskesmas Suli lanjutnya bercerita, melalui dokter dan pengelola program gizi membawa si Gufran untuk diperiksakan ke dokter spesialis anak di Belopa.

“Hasil pemeriksaannya, harus di rujuk lagi ke Makassar. Tapi selaku orangtua menolaknya dengan alasan tertentu,” tuturnya.

Mengenai penyampaian ibu Sekretaris Dinkes Luwu tadi, kata Khaeruddin, meminta untuk mengizinkan kedua anak ini dirawat intensif di RSUD Belopa, mohon waktu untuk diskusikan internal keluarga.

“Insya Allah beberapa hari ke depan akan saya informasikan hasil kesepakatan keluarga ke ibu sekretaris,” pinta Haeruddin.(mc/jp/*)

  • Pesan BNPB: Social Distancing: Kurangi kontak langsung. Jika SAKIT tetap di rumah. Jaga jarak aman minimal 1 meter. Dapatkan informasi akurat dan terpercaya di sini?Covid-19.go.di

Next Post

Direktur RSUD Masamba Memboyong 100 APD dari Dana Tanggap Darurat

Sen Mar 23 , 2020
Luwu, Saorakyat.com– Sejak tahun 2015, dua anak bersaudara kandung mengidap penyakit berkebutuhan khusus di Lingkungan Banawa, Kelurahan Suli, Kecamatan Suli, Luwu. Si kakak bernama Helsa, usia 10 tahun, menderita kelainan saraf di otak. Sedangkan adiknya bernama Gufran usia 5 tahun, mengalami kelainan jantung bawaan. Haeruddin, orang tua dua anak penderita […]