Kenali Bedanya ‘Self Monitoring’ dan ‘Self Isolation’ terkait Covid-19

3

Jakarta, Saorakyat.com – Virus corona (COVID-19) semakin menyebar dan meluas di Indonesia. Presiden Joko Widodo mengimbau agar masyarakat mulai mengurangi aktivitas di luar ruangan atau menjaga jarak (social distancing). Cara tersebut dianggap dapat menekan penyebaran virus corona, dari individu ke individu lainnya.

Selain melakukan social distancing, ada dua hal yang berhubungan dengan hal tersebut yaitu self isolation dan self monitoring. Apa sih arti kedua istilah itu? Berikut penjelasan Seksi Survilance Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Arum Ambarsari.

1. Self monitoring untuk orang yang tidak memiliki gejala virus corona.

Menurut Arum, self monitoring adalah situasi saat seseorang tidak memiliki gejala yang berkaitan dengan virus corona (COVID-19). Self monitoring ini dilakukan selama 14 hari dengan melakukan social distancing atau menjaga jarak.

“Apabila harus ada aktivitas, misalnya harus ke kantor ya ke kantor lalu rumah. Jangan berkeliling ke tempat-tempat lain, kemudian menggunakan masker apabila harus ke tempat yang ramai tetapi diusahakan tidak,” kata Arum di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur.

2. Self monitoring perlu bagi yang baru melakukan perjalanan ke negara terjangkit virus corona.

Self monitoring dilakukan ketika seseorang baru melakukan perjalanan dari negara terjangkit, untuk melihat apakah ada gejala atau tidak. Hal ini bisa berdampak besar pada keadaan di masyarakat untuk menekan angka penyebaran virus corona.

“Kalau kita tidak self monitoring diri kita pulang dari tempat yang terjangkit, kita bisa menularkan ke masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: 104 Orang Status Self Monitoring, Tujuh ODP dan Satu PDP

3. Seseorang harus melakukan self isolation usai self monitoring dan ditemukan gejala virus corona.

Selain self monitoring, menurut Arum, ada juga istilah self isolation. Istilah ini lekat untuk seseorang yang memang mengalami gejala ringan mirip virus corona seperti batuk, pilek, dan demam. Setelah melakukan self monitoring dan ditemukan gejala, seseorang harus melakukan self isolation.

Ketika melakukan self isolation sebisa mungkin lakukan inisiatif untuk memeriksakan dan mengisolasi diri, serta menggunakan masker dan menjaga etika batuk atau bersin.

“Buat yang bergejala ringan adalah protabnya self isolation, bukan juga langsung diambil swap atau pemeriksaan COVID-19,” kata dia.

Baca Juga: Direktur RSUD Masamba Memboyong 100 APD dari Dana Tanggap Darurat

4. Self monitoring dan self isolation perlu dilakukan agar orang lain tidak ikut terdampak.
Self monitoring dan self isolation, kata Arum, merupakan dua hal penting untuk menjaga kesehatan bersama dan diri sendiri.

Selain itu, self monitoring dan self isolation menjadi bentuk tanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain, karena dampaknya tidak hanya ke diri sendiri tapi juga ke orang lain.

“Jangan sampai kita tidak sadar kita membawa penyakit,” ujarnya.(*)

  • Referensi : idntimes.com

Next Post

Dua Anggota DPRD Sulawesi Ditangkap Pesta Narkoba di Jakarta.

Sel Mar 24 , 2020
Jakarta, Saorakyat.com – Virus corona (COVID-19) semakin menyebar dan meluas di Indonesia. Presiden Joko Widodo mengimbau agar masyarakat mulai mengurangi aktivitas di luar ruangan atau menjaga jarak (social distancing). Cara tersebut dianggap dapat menekan penyebaran virus corona, dari individu ke individu lainnya. Selain melakukan social distancing, ada dua hal yang […]