Pemkab Luwu Tak Berdaya dalam Mengambil Langkah Solusi Penanganan Banjir

Anggota TNI dan Polri bantu warga membersihkan penyumbatan sungai dI Jembatan, Keppe, Rantebelu. Jembatan itu sempat diprotes warga karena menggunakan tiang. Sehingga sampah dari puing-puing dugaan penebangan hutan menyumbat arus air. Pemda sebelumnya berjanji menyiapkan alat berat untuk membersihkan, tapi kini tak lagi dilakukan. Foto: Jurnalis Warga/saorakyat.com

LUWU, Saorakyat.comPengurus Pusat Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (PP IPMIL) menilai Pemkab Luwu lambat mengambil tindakan penanganan banjir yang rentan terjadi.

“Penandatangan MoU antara Pemda Luwu dengan Unhas 1 Oktober 2019, lalu, seharusnya sejak itu langsung action dalam mengantisipasi datangnya terjadi banjir,” ujar Reski, Sabtu, (11/7/20)

Reski mengatakan, Pemda Luwu belum melakukan tindakan dalam meminimaalisir banjir di sejumlah wilayah dI Luwu.

Anggota TNI dan Polri bantu warga membersihkan penyumbatan sungai dI Jembatan, Keppe, Rantebelu. Jembatan trans Sulawesi itu sempat diprotes warga karena menggunakan tiang. Balai jalan dan jembatan Sulsel (KemenPUPR) dianggap melakukan proyek asal-asalan. Foto: Jurnalis Warga/saorakyat.com

“Seharusnya Pemda Luwu melakukan tindakan cepat, minimal melakukan pengerukan sungai yang mulai dangkal untuk solusi jangka pendek,” ujarnya.

Adapun solusi jangka panjang yang mungkin bisa dilakukan, seperti memperlebar sungai. Memanfaatkan ekosistem hijau di pinggiran sungai. Ditanami pohon untuk menyerap air.

Baca Juga: Curah Hujan Tinggi, Sejumlah Wilayah di Luwu “Dicuci” Banjir

“Pun mereboisasi kembali hutan yang mulai gundul, sambil melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi untuk melakukan penanganan jangka panjang,” jelasnya.

Menurut Reski, penelitian ilmiah yang dilakukan Unhas saat ini juga mengarah kepada program jangka pendek dalam penanganan banjir. Untuk jangka panjang akan menyusun sejumlah program.

“Salah satu rekomendasinya yaitu normalisasi sungai namun sampai hari ini kita belum melihat langkah serius yang dilakukan Pemda Luwu,” terangnya.

Diketahui, banjir terparah yang terjadi pada Kamis, 9 Juli 2020, bukti bahwa belum ada penanganan serius dari Pemda Luwu.

Mereka hanya menyiapkan dapur umum dan tempat pengungsian bagi korban banjir. Bantuan secara instan.

“Menurut kami itu sudah tugas Pemda dalam memastikan masyarakat mendapatkan makanan dan tempat yang layak. Masyarakat butuh solusi kongkrit dari Pemda Luwu. Bukan penanganan instan dan kunjungan banjir,” kunci Reski (ham/jep)

Next Post

Arsyad Masih Berburu Rekomendasi Parpol, Indah dan Thahar Semakin Menarik Simpati

Ming Jul 12 , 2020
Anggota TNI dan Polri bantu warga membersihkan penyumbatan sungai dI Jembatan, Keppe, Rantebelu. Jembatan itu sempat diprotes warga karena menggunakan tiang. Sehingga sampah dari puing-puing dugaan penebangan hutan menyumbat arus air. Pemda sebelumnya berjanji menyiapkan alat berat untuk membersihkan, tapi kini tak lagi dilakukan. Foto: Jurnalis Warga/saorakyat.com LUWU, Saorakyat.com—Pengurus Pusat […]