Satelit Nusantara Dua Gagal Mengorbit, Siaran TV dan Radio Terancam Bermasalah

Jakarta, Saorakyat.com–Kegagalan Satelit Nusantara Dua mengorbit di luar angkasa bisa menimbulkan gangguan bagi siaran pertelevisian Indonesia. Sebab, sebagian besar stasiun TV di Indonesia saat ini menggunakan satelit Palapa D yang sudah memasuki usia akhir dan seharusnya digantikan posisinya oleh Nusantara Dua.

Selain televisi, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mencatat bahwa Palapa D dipakai oleh 8 stasiun radio di Indonesia.
Menurut Direkur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, dampak pertama dari kegagalan Satelit Nusantara Dua mengorbit bakal dirasakan langsung oleh pelanggan satelit Palapa D. Pasalnya, satelit yang diluncurkan sejak 2009 itu sudah uzur dan perlu segera diganti.

“Dampaknya banyak. Pertama, harus lapor ke ITU (International Telecommunication Union) untuk tetap dicatatkan slot orbit sebagai alokasi Indonesia. Sebab Palapa D kan sudah mau habis, jika 2 tahun kosong akan dianggap kosong dan bisa dialokasikan ke yang lain kecuali diisi plotter,” kata Heru, mengutip kumparan TECH, Jumat (10/4/20).

“Yang menggunakan Palapa D bersiap bakal ada gangguan, sehingga harus segera ada upaya mitigasi ke satelit lain karena umur satelit sudah habis,” sambungnya.

Heru menegaskan, kalau terlambat melakukan mitigasi, layanan stasiun TV yang pakai layanan Palapa D tidak bisa dinikmati di seluruh Indonesia sampai proses perpindahan selesai.

Menurut catatan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate, Palapa D saat ini melayani 23 stasiun TV dan 8 radio di Indonesia.

“Satelit Palapa D yang terletak di satelit orbit 113 bujur timur yang saat ini sedang melayani 23 lembaga penyiaran televisi dan 8 radio, akan de-orbit pada selambatnya akhir Juli 2020,” kata Johnny dalam sebuah konferensi pers virtual, Jumat (10/4/20).

Baca juga:

Satelit Nusantara Dua sendiri gagal mencapai orbit setelah diluncurkan pada Kamis (9/4) dari Xichang Satellite Launch Center (XLSC) di Xichang, China. Satelit ini dimiliki oleh PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera (PSNS), yang merupakan perusahaan patungan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Indosat Ooredoo, dan PT Pintar Nusantara Sejahtera (PNS).

Satelit Nusantara Dua dibawa menggunakan roket Long March 3B. Menurut penjelasan PSN, satelit tersebut gagal mengorbit setelah stage ke-3 peluncuran gagal dilakukan.

“Stage ketiga itu memiliki dua roket, salah satu roketnya tidak menyala. Sehingga tidak mendapatkan kecepatan yang cukup untuk masuk ke orbit yang telah ditentukan,” kata Adi Rahman Adiwoso, Direktur Utama PSN, dalam konferensi yang sama.

“Ketinggiannya satelit tersebut hanya sekitar 170 km, dengan kecepatan 7.100 meter per detik, dan kemudian jatuh ke lautan dan tidak bisa diselamatkan,” sambungnya.

Baca Juga:

Diketahui, ini bukan kali pertama peluncuran satelit Indonesia bermasalah ketika menggunakan roket Long March 3B.
Pada 2009 lalu, Palapa D juga mengalami masalah saat parsial tingkat ketiga peluncuran dengan roket Long March 3B. Masalah ini membuat umur pakai satelit Palapa D hanya 10,5 tahun.

“Ke depan pemerintah juga harus punya sikap dan bisa menentukan dengan tegas dimana satelit dibangun dan roket yang dipakai. Roket Chang Zheng 3B atau Long March 3B kan di 2009 lalu juga kendala menerbangkan Palapa D ke orbit harusnya black list. Kan banyak roket lain yang lebih bagus dan sukses,” sambungnya.

Langkah Kominfo Usai Satelit Nusantara Dua Gagal Mengorbit

Menkominfo Johnny G. Plate sendiri mengumumkan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai langkah strategis untuk mengamankan siaran TV di Indonesia dari gangguan. Dia mengatakan, pemerintah akan berunding dengan International Telecommunication Union (ITU) perihal regulasi satelit internasional agar hak slot orbit satelit Indonesia di 113 Bujur Timur (BT) tidak diambil pihak lain.

“Permasalahan ini tentu akan diantisipasi oleh Kominfo ke International Telecommunication Union,” kata Johnny.

Kementerian Kominfo juga akan menyampaikan di forum internasional ITU agar kegagalan peluncuran satelit Nusantara Dua tidak memberikan efek yang merugikan bagi penggunaan filling satelit Indonesia sehingga Indonesia dapat mempertahankan hak penggunaan satelit di slot orbit 113 Bujur Timur tersebut.

Baca Juga:

Adapun untuk mengatasi permasalahan satelit dalam waktu dekat, CBO Indosat Ooredoo Bayu Hanantasena mengatakan, pihaknya akan “melaksanakan business contingency plan, salah satunya dengan mencari satelit pengganti.

Mereka juga berjanji bahwa pelanggan broadcaster penyiaran tidak akan terganggu dengan kegagalan orbit Satelit Nusantara Dua. Besar kemungkinan, satelit milik Telkom bakal dimanfaatkan untuk menggantikan Palapa D.

“Kami sudah melaksanakan business contigency plan, yang salah satunya dengan mencari satelit pengganti. Kami akan terus memastikan layanan yang diberikan pelanggan khususnya pelanggan broadcaster penyiaran maupun pelanggan untuk komunikasi, bisa kami layani dengan baik dan tidak terganggu,” ujar Bayu.(rz/aj)

Next Post

Pemerintah Impor Alat Deteksi Covid-19 Berbasis Molekuler

Sab Apr 11 , 2020
Jakarta, Saorakyat.com–Kegagalan Satelit Nusantara Dua mengorbit di luar angkasa bisa menimbulkan gangguan bagi siaran pertelevisian Indonesia. Sebab, sebagian besar stasiun TV di Indonesia saat ini menggunakan satelit Palapa D yang sudah memasuki usia akhir dan seharusnya digantikan posisinya oleh Nusantara Dua. Selain televisi, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mencatat bahwa […]