Tanpa Kehadiran Pemerintah, Penderita Lumpuh Layu Berjuang Hidup di Tengah Pandemi Covid-19

LUWU, Saorakyat.com—Kehadiran pemerintah tak dirasakan Angga Saputra. Seorang anak yang tinggal di Dusun Pandoso Desa Tallang Bulawang, Bajo, Luwu hanya mampu terbaring di rumah panggungnya akibat menderita penyakit lumpuh layu.

Achmad, orang tua Angga Saputra termasuk keluarga yang kurang mampu di desa itu yang tak jauh dari ibukota kabupaten.

Tinggal di rumah panggung yang jauh dari kategori layak huni. Kayu tiang penopang rumah berukuran kecil itu sudah lapuk.

Selain karena dari bahan kayu yang tak berkelas, juga sudah dimakan rayap.Atap dari daun rumbia juga sudah bolong-bolong. Menembus cahaya langit.

Jika hujan turun, air bercucuran dari atap yang bocor. Belum lagi ikatan tiang-tiang bangunan dari rotan juga sudah ditelan usia. Papan lantai dan dinding seadanya.

Baca Juga:

Orang tua Angga tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehari-harinya mencari madu di hutan. Ibunya, sebagai ibu rumah tangga. Paling utama mencurahkan konsentrasinya mengurusi putra bungsunya yang terkena penyakit lumpuh layu itu.

“Saya hanya mencari madu di hutan. Hasilnya tidak menentu. Sebulan kadang hanya dapat 3 sampai 5 botol saja,” ucapnya.

Sarang lebah kata dia, sudah sangat sulit ditemukan di hutan.

“Saya juga biasa buruh tukang batu jika ada yang memanggilnya. Tapi itu juga tak menentu,” ujar Achmad.

Anak keempat dari Achmad–Risma ini lahir dalam keadaan normal. Meskipun terlihat ceria, tetapi ia tidak dapat bermain dengan teman sebayanya.

Sebab Balita kelahiran 12 November 2015 ini hanya terkulai lemah dan digendong ibunya ketika hendak disuapin.

Baca Juga:

Angga tak bisa bergerak sendiri seperti anak normal lainnya. Seiring waktu, harus dipangku dan digendong sang ibu.

Achmad menuturkan, kalau anak bungsunya itu diduga menderita lumpuh layu. Bukan penyakit bawaan. Saat lahir normal seperti anak lainnya.

“Sekira berusia masih sebulan, Angga menderita sakit perut dan kejang-kejang. Kami sempat bawah ke Puskesmas untuk mendapat perawatan,” sebut Acmad.

Karena perkara ekonomi, Angga hanya sebatas mendapat perawatan di Puskemas.

Orang tuanya tidak mampu untuk menanggung biaya perawatan. Sehingga Angga yang seharusnya dirawat lebih intensif dengan dokter ahli, ataupun di rumah sakit tak dilakukan.

“Angga tidak terdaftar BPJS, karena kami tidak mampu membayar iurannya,” ujar Achmad.

Baca Juga:

Achmad mengatakan, hanya Angga yang tidak punya kartu BPJS, sedangkan tiga saudaranya memiliki BPJS.

“Saya pernah urus BPJS untuk Angga, tetapi kami tunggu sampai sekarang tidak kunjung datang dan tak ada kabarnya,” sebutnya.

Achmad menyebutkan karena keterbatasan biaya, sehingga ia juga tidak menguruskan BPJS Mandiri.

“Untuk biaya sehari-hari saja susah apalagi mau urus BPJS Mandiri, kami tidak punya uang untuk membayar iurannya setiap bulan,” tutur Achmad.

Ia mengatakan, soal anaknya Angga, pernah ada tenaga medis datang ke rumah melihat kondisinya. Angga waktu itu umur 1 tahun. Tapi sudah tidak pernah datang lagi.

Achmad bersama istrinya hanya bisa pasrah. Selama ini cuma bisa membawah Angga berobat kampung.

Tapi belum juga mampu menyembuhkan penyakit lumpuh layu yang diderita anaknya itu.

Masa pandemi Covid-19 ini keluarga Achmad semakin merasakan hempitan ekonomi. Mereka tidak menerima bantuan BLT Kemensos dan BLT Dana Desa maupun PKH.

Ibu Angga tercatat sebagai penerima PKH di Kabupaten Maros. Belakangan dikonformasi sejak tahun 2015 dia sudah tidak tercatat sebagai penerima PKH. Baik di Maros mapun di Luwu.

Hal itu lantaran, keluarga Achmad tidak pernah melaporkan alamatnya di Kabupaten Luwu.

Kondisi ini tentu mencuatkan pertanyaan. Lalu kemana kehadiran pemerintah desa tempat domisili Achmad saat ini?

Melihat kondisi fisik anaknya yang mengalami lumpuh layu, Achmad dan sang istri, Risma sangat berharap kepada pemerintah dan dermawan.

Mereka sangat butuh uluran tangan demi kesembuhan putra bungsunya yang sangat dicintainya itu.

Kepekaan dan kepedulian sosial untuk meringankan beban keluarga Acmad penting menjadi perhatian seluruh komponen.

Kondisi ini sekaligus menunjukan ketidakhadiran pemerintah pada semua tingkatan dalam melindungi segenap masyarakatnya.

Terlepas dari itu, Anggota DPR RI, Fraksi Partai Demokrat, Muhammad Dhevy Bijak Pawindu meluangkan waktu mengunjungi Angga Saputra, penderita lumpu layu itu, Jumat (8/5/20)

Putera sulung Wakil Bupati Luwu menunjukan keprihatinannya terhadap anak penderita lumpuh layu itu setelah mendapat kabar. Sekaligus menyerahkan bantuan sembako ala kadarnya sebagai penyambung hidup keluarga tersebut.(jp/as)

Next Post

DPRD Lutra Dimosi Tidak Percaya Menyoal Lanjutan RDP Dana Penanganan Covid-19

Sab Mei 9 , 2020
LUWU, Saorakyat.com—Kehadiran pemerintah tak dirasakan Angga Saputra. Seorang anak yang tinggal di Dusun Pandoso Desa Tallang Bulawang, Bajo, Luwu hanya mampu terbaring di rumah panggungnya akibat menderita penyakit lumpuh layu. Achmad, orang tua Angga Saputra termasuk keluarga yang kurang mampu di desa itu yang tak jauh dari ibukota kabupaten. Tinggal […]