Virus Corona Tak Bisa Dihadapi dengan Bahasa Perang

Saorakyat.com–Sama seperti perang sebelumnya tentang kemiskinan, narkoba dan terorisme, ‘perang terbaru melawan COVID-19’ akan gagal jika pendekatan militeristik serupa digunakan.

Kita hanya bisa menang jika kita mengembalikan kebaikan bersama yang dihancurkan oleh kebijakan neoliberal selama beberapa dekade. Begitu menurut Michael Marde, seorang profesor di departemen Filsafat di Universitas Basque Country Spanyol, kepada Russian Today.

Pengobatan barat modern cenderung memanjakan diri dalam wacana dan tindakan yang berhubungan dengan militer. Seseorang sedang berjuang melawan penyakitnya, tumor ganas itu sangat agresif, dan harus diserang dengan cara agresif pula lewat kemoterapi, setelahnya dia bisa menang (sembuh) atau kalah (meninggal) dalam pertempurannya tersebut.

“Orang-orang mengerti apa arti perang, apa konsekuensi perang dalam arti rasa sakit dan kehilangan dan kematian,” kata Leana Wen, profesor tamu kebijakan dan manajemen kesehatan di Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas George Washington. “Mereka memahami pengorbanan yang harus terjadi selama masa perang dan mereka memahami mobilisasi besar-besaran sumber daya yang dibutuhkan dalam perang.”

Baca juga: 254 Rumah Terdampak Banjir, Pemuda Pancasila Salurkan Bantuan

Mobilisasi massa merupakan faktor kunci dalam peperangan. Semakin banyak yang terlibat dalam peperangan, semakin kuat kita. Masyarakat diminta terlibat dalam peperangan ini dengan menjaga jarak aman sosialnya, dalam kehidupan kesehariannya dari rumah, diminta mencuci tangan dengan sungguh-sungguh sebagai suatu tindakan bela negara. Industri terlibat dengan membuat perlengkapan tempur (alkes) untuk pasukan garda depan (tenaga kesehatan).

“Presiden mengatakan ini perang,” kata Gubernur New York Andrew Cuomo.

“Saya setuju dengan itu. Ini adalah perang. Kalau begitu mari kita bertindak seperti itu, dan mari kita bertindak seperti itu sekarang. Dan mari kita tunjukkan kesamaan dan kebersamaan dan persatuan yang belum pernah dilihat negara ini dalam beberapa dekade, karena Tuhan tahu kita membutuhkannya hari ini lebih dari sebelumnya. ”

Wacana Perang di Luar Konteks Militer Sejak 1960-an, pemerintah di seluruh dunia (dimulai dengan Amerika Serikat) telah memperluas wacana perang di luar konteks permusuhan militer yang dipahami secara tradisional. Pada tahun 1964, Presiden AS Lyndon Johnson mengumumkan dimulainya “perang melawan kemiskinan” ketika ia berusaha meletakkan dasar bagi negara kesejahteraan.

Baca juga: Kasus Positif Covid-19 Belum Terkendali, Tapi Sudah 150 Sehat Total

Pada tahun 1971, Presiden Richard Nixon menyebut penyalahgunaan narkoba sebagai “musuh publik nomor satu” dan menyatakan “perang melawan narkoba.”

Pada tahun 2001, Presiden George W. Bush menyampaikan seruannya untuk “perang melawan teror” global dalam menanggapi serangan 11 September di World Trade Center di New York, dan membawa seluruh dunia dalam kesiagaan yang sama. Alasan utama para pejabat menggunakan metafora perang adalah untuk menyampaikan perasaan urgensi dan darurat.

Dengan setiap deklarasi baru, musuh tertuduh menjadi semakin tidak terlihat, tidak memiliki garis depan yang dapat dikenali.

Musuhnya adalah itu (benda) bukan dia (manusia). Virus diperlakukan seperti ide, menembus batas diplomasi dan dinding kamar, di jalanan, tempat pariwisata atau rumah ibadah.

Dengan musuh yang tidak mudah dilokalisasi dan berpotensi hadir di mana saja, perang menjadi total, melanda semua realitas. Satu manusia yang masih terinfeksi adalah ancaman bagi seluruh umat manusia, meskipun berjarak ribuan kilometer jauhnya.

Donald Trump menyebut dirinya “presiden masa perang” dan mengatakan coronavirus adalah “musuh yang tak terlihat.” Mantan direktur CDC telah memperingatkan “perang panjang ke depan.”

Dokter dan perawat adalah pasukan garda depan, yang bertarung di medan laga ruang isolasi, berhadapan langsung dengan virus.

Baca juga: Indah Janji Beri Insentif Tenaga Medis Penanganan Covid-19

Namun, perjuangan untuk menghentikan coronavirus tentu saja sebenarnya bukan perang antar negara (lebih pada perang antar spesies)- ini adalah darurat kesehatan masyarakat global.

Metafora perang dapat membantu memberi informasi dan memotivasi publik, terlihat sangat cocok dalam banyak hal, tetapi juga dapat menyesatkan para pembuat kebijakan dan publik.

Keterbatasan Bahasa Perang
Cheryl Healton, dekan NYU School of Global Public Health, pada CNN mengatakan bahasa seperti perang dapat mengarah pada solusi jangka pendek yang mengabaikan masalah mendasar. Dia mengatakan dana pemerintah telah lama berfokus pada pengobatan daripada pencegahan–atau dalam bahasa politiknya mempersiapkan perang tetapi mengabaikan diplomasi.

Metafora perang juga dapat menciptakan peluang politik bagi kaum otoriter. Gagasan tentang negara yang diserang dapat digunakan oleh para pemimpin otoriter untuk merebut lebih banyak kekuasaan, menghabisi lawan politik, alih-alih virus, seperti yang terjadi di Hongaria maupun Filipina.

Musuh yang tak terlihat yang berperan dalam perang melawan virus corona membuat perang total dengan menghapus garis depan yang jelas. Sementara garis dihapus, bagian depan tidak hilang: garis itu ditarik di antara kita masing-masing dan bahkan di dalam diri kita masing-masing, mengingat

ketidakpastian apakah seseorang terinfeksi dengan virus corona atau tidak. Seseorang diwaspadai selama 14 hari untuk bisa menjalani kehidupan barunya dalam masa pandemi dalam rumah.

Baca juga: Tak Perlu Takut, Ini Kata WHO soal Jenazah Pasien Covid-19

Musuh kita adalah virus. Organisme mikroskopik yang tersebar di berbagai ekosistem di dunia, sering disebut sebagai organisme terbanyak di planet dan cenderung bersifat parasit bagi manusia. Lebih khusus lagi, virus penyebab huru-hara besar dunia saat ini adalah adalah virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Virus Corona baru ini menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, hingga kematian.

Bahkan ketika virus itu membunuh seseorang, jasad yang menjadi inang si virus ditolak dimakamkan, gagasan perang di masyarakat tercampur dengan gagasan perang melawan terorisme dan ideologi jahat. Virus dalam tubuhnya tidak dapat mengubah fakta bahwa dia, misalnya: Seorang ayah/ ibu, anak, pekerja yang sopan dan warga yang taat. Virus bukan ide, yang boleh ditolak dengan spanduk dan seruan perang, ini lawan yang berbeda. Musuhnya menjadi tidak jelas; bukan lagi virus, melainkan tubuh yang membawa virus.

Baca juga: Daud Mustakim: Status PDP yang Meninggal Domisili Makassar, Bukan Rujukan dari Luwu

Kita perlu berkonsentrasi pada tindakan kecil kebaikan dan solidaritas di sekitar kita. Itu termasuk membantu kelompok rentan dengan membeli makanan, perbekalan atau obat-obatan, dan merawat mereka.

Pemerintah memperbaiki sistem pelayanan kesehatan, baik yang diselenggarakan negara maupun swasta. Pengalaman-pengalaman ini dapat menghidupkan kembali gagasan tentang kebaikan bersama, mengubah cara hidup kita menjadi lebih baik paska pandemik.
Sedikit kesimpulan barangkali bisa memulai diskusi lebih lanjut mengenai apa yang sebenarnya kita alami hari ini: Ya, ini bukan tentang perang sebab ini adalah tentang mengubah seluruh cara hidup kita, berhubungan dengan sesama, dengan seisi planet. Pemerintah dan warga mesti mau melihat cermin Chairil Anwar: Aku berkaca / Ini muka penuh Luka / Siapa punya? (*)

Dikutip dari Kumparan.com

Next Post

Satu Pasien PDP di RSUD Lakipadada Dikabarkan Meninggal Dunia

Sab Apr 4 , 2020
Saorakyat.com–Sama seperti perang sebelumnya tentang kemiskinan, narkoba dan terorisme, ‘perang terbaru melawan COVID-19’ akan gagal jika pendekatan militeristik serupa digunakan. Kita hanya bisa menang jika kita mengembalikan kebaikan bersama yang dihancurkan oleh kebijakan neoliberal selama beberapa dekade. Begitu menurut Michael Marde, seorang profesor di departemen Filsafat di Universitas Basque Country […]