Aktivis: Empat Kepala Daerah Jangan Hanya Pernyataan Sikap, Rakyat Butuh Langkah Konkret
PALOPO, SAORAKYAT–Eskalasi tuntutan pembentukan DOB Luwu Raya semakin memantik semangat perjuangan masyarakat di wilayah Tana Luwu. Gelombang aksi muncul di beberapa titik dari berbagai kalangan.
Kekinian, desakan keras datang dari elemen masyarakat yang menilai para pemangku kebijakan di empat daerah pemerintahan Tana Luwu terlalu pasif dalam memperjuangkan aspirasi rakyat di tingkat pusat.
Dalam sebuah pernyataan terbuka yang beredar luas, aktivis sekaligus tokoh pemuda, Bayu Purnomo, menegaskan, sudah saatnya para pemimpin daerah meninggalkan seremonial politik dan beralih ke tindakan diplomasi yang konkret.
Menurut pesan yang disampaikan, masyarakat Tana Luwu kini tidak lagi membutuhkan “pernyataan sikap” tertulis yang dinilai hanya menjadi konsumsi media lokal tanpa dampak kebijakan.
”Saat ini tidak dibutuhkan lagi sebatas pernyataan sikap dari para Kepala Daerah dan pimpinan DPRD se-Tana Luwu. Kalau sebatas itu, semua bisa lakukan. Yang dibutuhkan saat ini adalah tindakan riil,” bunyi kutipan dalam pesan tersebut.
Komunikasi Politik Tingkat Pusat
Pesan tersebut secara spesifik meminta 4 Kepala Daerah (Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Kota Palopo) serta 4 Pimpinan DPRD untuk berangkat ke Jakarta.
Target utamanya adalah:
Menteri Dalam Negeri (Mendagri): Untuk membahas hambatan administratif dan moratorium wilayah.
Komisi II DPR RI: Sebagai pintu masuk legislasi pemekaran wilayah dan kebijakan otonomi.
Presiden RI (RI 1): Guna menyampaikan kondisi objektif dan urgensi di Tanah Luwu secara langsung. Membawa suara rakyat
kunjungan langsung ke pusat kekuasaan dianggap sebagai harga mati untuk menunjukkan keseriusan elit politik lokal. Sekaligus meminta presiden untuk mengeluarkan Diskresi guna mencabut moratorium dan mewujudkan keinginan masyarakat Tana Luwu.
Selama ini, isu pembentukan Provinsi Luwu Raya dan percepatan pembangunan di wilayah tersebut dianggap jalan di tempat karena kurangnya lobi politik yang agresif di tingkat nasional.
”Sampaikan kondisi objektif situasi di Tanah Luwu saat ini, sampaikan keinginan Rakyat,” tegas narasi yang beredar di platform Whatsapp grup tersebut.
Masyarakat masih menunggu respon resmi dari pimpinan daerah dan legislatif di Tana Luwu terkait tantangan untuk “menjemput bola” ke Jakarta ini.(**)


Tinggalkan Balasan