Pengembangan Transmigrasi di Tana Toraja Menuai Polemik
MAKALE, SAORAKYAT — Rencana pengembangan kawasan transmigrasi di Tana Toraja mendapat respon dari publik Hal itu setelah Tim Ekspedisi Patriot memaparkan hasil penelitian tentang pengembangan kawasan transmigrasi dalam sebuah forum komunikasi publik yang berlangsung di Ruang Pola, lantai 4 Kantor Bupati Tana Toraja, Selasa (25/11/2025)
Warga Toraja di media sosial ramai -ramai menyatakan penolakan rencana pemerintah melakukan pengembangan kawasan transmigrasi, jika hal itu diperuntukkan untuk masyarakat dari luar Tana Toraja dengan kata lain mendatangkan orang dari luar.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Tana Toraja Tupa Batara Randa kepada wartawan Rabu 26 November 2025 menjelaskan program Ekspedisi Patriot yang dilaksanakan Kementerian Transmigrasi bekerja sama Perguruan Tinggi dari ITB dan IPB di Kabupaten Tana Toraja terkait dengan pengembangan kawasan transmigrasi.
Tupa’ mengatakan, program ekspedisi patriot adalah program strategis dari Kementerian Transmigrasi yang melibatkan peneliti muda dari ITB dan IPB yang fokus utama penelitian diarahkan pada perbaikan tata kelola transmigrasi daerah. Mulai dari aspek perencanaan, pemenuhan layanan dasar, hingga peningkatan efektivitas koordinasi pada setiap tingkatan pemerintahan.
Tana Toraja menjadi salah satu lokasi penelitian, karena Tana Toraja masuk salah satu dari 154 kawasan transmigrasi untuk program pengembangan.
Di Tana Toraja sendiri program transmigrasi sudah berjalan sejak 1998 di Kecamatan Bittuang dan tahun 2011 di Kecamatan Mengkendek yakni Lembang Pakala dan Simbuang.
Baca juga: Mantan Kandinkes Torut Ditahan Kejaksaan
Kehadiran para peneliti dari ITB dan IPB ini untuk menggali potensi lokal, sosial dan budaya untuk mendorong peningkatan ekonomi, peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat lokal serta perbaikan kualitas pelayanan dasar.
Tupa’ menegaskan, tanah di Tana Toraja sebagian besar adalah tanah adat (ulayat) sehingga dalam Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT) di Tana Toraja bukan diperuntukkan untuk masyarakat luar Tana Toraja tapi untuk masyarakat lokal Tana Toraja itu sendiri.
“Dengan adanya pertambahan kawasan transmigrasi di Tana Toraja, tentu akan didukung oleh program pembangunan seperti rumah tinggal, akses jalan, jembatan dan infrastruktur lainnya seperti rumah ibadah, sekolah dan sarana kesehatan,” urai Tupa’ Batara Randa.
Salah satu alasan lain mendorong program transmigrasi lokal adalah masih banyak warga Tana Toraja yang dalam satu rumah ditinggali lebih dari satu Kepala Keluarga, sehingga dengan program ini masyarakat atau Kepala Keluarga yang belum memiliki rumah bisa mendapatkan rumah melalui program ini.
Selain itu masih banyak juga masyarakat Toraja yang merantau yang tidak memiliki lahan di kampung, sehingga jika suatu saat pulang dan ingin menetap di Tana Toraja, punya peluang untuk bisa tinggal di kawasan transmigrasi.
Tana Toraja jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomis Baru
Kementerian Transmigrasi (Kemenrans) menilai Kabupaten Tana Toraja memiliki potensi besar sebagai kawasan dengan daya tarik investasi tinggi lewat kekayaan alam, keluhuran budaya dan dukungan infrastruktur udara yang memadai.
Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan bahwa Tana Toraja siap bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui strategi transmigrasi modern. Pernyataan tersebut disampaikan Iftitah saat memberikan keynote speech secara daring dalam Forum Konsultasi Publik Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengenai Evaluasi Kawasan Transmigrasi Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Utara, Selasa (25/11/2025).
“Saat saya kunjungan ke Tana Toraja, saya melihat magnetnya Tana Toraja itu luar biasa. Maka, saya tugaskan kemarin kepada TEP. Tolong sesuai dengan semangat strategi transmigrasi hari ini, yakni bagaimana kita tidak lagi memindahkan semut, tetapi strateginya ada gula, ada semut,” kata Iftitah dalam keterangan resminya, Kamis (27/11/2025).
Bagaimana mencetak gula-gula di Tana Toraja, sehingga banyak orang datang ke Tana Toraja yang nanti investor juga akan datang ke sana, baik dalam konteks kekayaan alam seperti kopi, maupun konteks kekayaan budaya untuk pariwisata. Itu membuat investor juga datang, sehingga membuka lebih banyak lapangan kerja,” lanjut dia.
Iftitah mengungkapkan bahwa transmigrasi modern saat ini tidak lagi berfokus pada pemindahan penduduk, melainkan menciptakan pusat-pusat kesejahteraan baru bagi masyarakat.
“Tugas kita adalah menyiapkan masyarakat Tana Toraja menjadi tuan rumah yang baik, terserap oleh lapangan kerja, sehingga masyarakat memiliki daya beli dan bisa keluar dari kemiskinan, utamanya desil 1 sampai desil 5. Inilah yang ingin kita terus canangkan dan lakukan ke depan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Iftitah menerima laporan dari TEP mengenai keramahan masyarakat Tana Toraja yang membuat mereka betah dan nyaman selama menjalankan tugas dari Kementrans.
“Saya menyampaikan apresiasi dan hormat kepada Pak Bupati dan masyarakat Tana Toraja atas hospitality-nya (keramahtamahan). Inilah salah satu kekuatan dari bangsa Indonesia, hospitality-nya itu,” katanya.
Oleh karena itu, Kementrans akan kembali menerjunkan TEP di Tana Toraja pada 2026 dengan misi menghasilkan kajian kelayakan program yang sudah lengkap dan siap diajukan kepada investor (feasibility study ready to offer). Mengingat tugas TEP tahun ini adalah melakukan riset dan pemetaan potensi ekonomi di kawasan transmigrasi untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Sehingga ke depan kesuksesan TEP itu bukan soal semantiknya laporan, bukan dilihat dari bagusnya dokumen untuk dibaca, tetapi seberapa visible laporan tersebut. Kemudian, dalam tanda petik dimakan oleh para investor,” jelas Iftitah.
Ia menambahkan, laporan tersebut diharapkan dapat dipercaya oleh para investor bahwa menanamkan sejumlah uang atau modal di Tana Toraja akan menghasilkan profit yang terbaik, bukan hanya untuk mereka sendiri, tetapi juga untuk masyarakat Tana Toraja.
“Masyarakat lokal bukan hanya bisa menjadi tuan rumah pembangunan bagi kampung halamannya sendiri, tetapi juga yang lebih penting bisa menjadi pagar hidup bagi industri yang berkembang di Tana Toraja,” ujar Iftitah. (*)


Tinggalkan Balasan