Perjuangan Luwu Raya Terus Bergulir, Dua Alat Berat Melintang di Trans Sulawesi
LUWU, SAORAKYAT–Tuntutan pembentukan daerah otonomi Provinsi Luwu Raya dan Luwu Tengah terus bergulir di wilayah Tana Luwu. Baik perjuangan melalui lembaga resmi maupun aksi jalanan.
“Perjuangan tidak akan berhenti hingga adanya pengakuan dan kejelasan dari pemerintah, baik provinsi hingga pusat,” kata salah satu orator aksi yang digelar di simpang empat, Padang Sapa, Kecamatan Ponrang, Luwu, Kamis (5/2/2026)
Aksi dan orasi dari berbagai kalangan itu mulai mahasiswa hingga masyarakat, tak segan-segan menyatakan, Tana Luwu adalah sebuah wilayah eks perjuangan dari berbagai konflik masalah lalu. Baik perjuangan merebut NKRI dari penjajahan dan mempertahankan NKRI hingga perjuangan otonomi khusus.
“Yang kami minta kali ini hanya pembentukan daerah otonomi provinsi, agar ketimpangan pembangunan yang terjadi bisa dirasakan secara baik. Bukan kami ingin keluar dari NKRI seperti yang disebut Gubernur Sulsel,” tandas orator di atas sebuah ekskavator yang melintang di jalan Trans Sulawesi itu, tepatnya traffic light Padang Sappa.
Lanjut orasi seorang paru baya itu dengan lantang mengatakan, Tana Luwu mengalir darah pejuang.
“Jadi pemerintah jangan mengabaikan aspirasi ini, karena perjuangan akan terus hingga terbentuk,” sebut tokoh masyarakat Padang Sappa dalam orasinya.
Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan masyarakat Luwu terhadap lambannya progres pemekaran Luwu Raya yang hingga kini belum menunjukkan kejelasan, meski telah diperjuangkan bertahun-tahun.
“Kami kecewa terhadap pemerintah provinsi yang belum sepenuhnya memberikan dukungan nyata atas aspirasi masyarakat Luwu yang ingin berpisah dari Sulawesi Selatan,” teriak salah satu orator dalam orasinya.
Tak hanya pemerintah provinsi, massa aksi juga menyoroti sikap kepala daerah se-Luwu Raya yang dinilai belum menunjukkan langkah tegas dan konkret untuk merealisasikan aspirasi masyarakat.
“Yang kami perjuangkan adalah kesejahteraan dan peningkatan ekonomi masyarakat Luwu. Tapi sampai hari ini, para pemimpin daerah belum menunjukkan aksi nyata atas komitmen yang mereka sampaikan kepada rakyat,” tegas Aziz selaku Jendral Lapangan aksi.
Dalam aksi tersebut, massa menggunakan dua unit ekskavator untuk menutup badan jalan. Akibatnya, arus lalu lintas di jalur utama Trans Sulawesi lumpuh total dan menyebabkan kemacetan panjang dari dua arah.
Di lokasi demonstrasi, aparat kepolisian terlihat bersiaga dan melakukan pengaturan lalu lintas guna mengurai kemacetan serta menjaga situasi tetap kondusif.(*)


Tinggalkan Balasan